Direktur Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (IBEKA) Tri Mumpuni menyebut hal terpenting dalam proses pembangunan adalah pendekatan kepada masyarakat. Tidak hanya komitmen para pemangku kepentingan namun juga keterlibatan masyarakat dalam pembangunan itu.

“Pulau Sumba Ikonik ini sebuah mimpi yang bisa jadi kenyataan dalam 10 tahun ke depan,” kata Tri Mumpuni di Jakarta, Rabu (13/02).

Dalam acara seminar nasional Sumba Iconic Island, Tri Mumpuni menceritakan pengalamannya ketika berada di Sumba sekitar tahun 1999. Dia melihat kaum perempuan dan anak-anak menghabiskan waktu selama tujuh jam sehari hanya untuk mengambil air. Untuk meringankan beban masyarakat, Tri Mumpuni kemudian memasang panel surya yang digunakan untuk memompa air.

“Begitu teknologi dipasang tugas mereka cepat selesai. Tapi perempuan itu tidak mau diam begitu saja. Mereka kemudian membuat katami atau sejenis tikar yang bisa bantu penghasilan keluarga. Jadi ini terlihat perempuan memegang peranan penting dalam ekonomi,” jelasnya.

Pada suatu hari, kata Tri Mumpuni ada Solar Photo Voltaic (PV) seharga US$250 ribu yang rusak karena ada batu besar tergeletak diatasnya. Usut punya usut ternyata pemasangan panel surya itu tidak melibatkan masyarakat, sehingga penduduk di sekitar pembangkit energi tenaga surya itu tidak merasakan manfaatnya.

Lebih lanjut Tri Mumpuni mengatakan Ibeka telah membangun pembangkit listrik tenaga miko hidro berkapasitas sekitar 500 kilowatt. Listrik sebesar itu mampu menerangi di lebih 60 desa. Serta IBEKA dan Hivos membangun satu unit pembangkit listrik mikro tenaga air di Mbaku Hau Desa Kemanggih, Sumba Timur berukuran 37 KWH yang mampu memberikan penerangan ke 100 rumah tangga dan dua industri rumah tangga.

Menurut Tri Mumpuni kebutuhan tiap kepala keluarga hanya sekitar 50 voltampere lantaran digunakan untuk kebutuhan penerangan di malam hari. “Sekarang jangan hanya berpikir supply tapi dilihat demand-nya berapa. Berikan apa yang dibutuhkan rakyat,” jelasnya.

Sementara itu Jubilate Pieter Pandango selaku Bupati Sumba Barat mengatakan karakter masyarakat di pulau Sumba berbeda beda berdasarkan strata sosial. Di pulau Sumba ada empat kabupaten yaitu Sumba Barat, Sumba Tengah, Sumba Timur dan Sumba Barat Daya.

Menurut Pieter, masyarakat Sumba Tengah dan Sumba Timur agak lamban dalam menerima informasi. “Memang agak setengah mati berhadapan sama mereka. Mereka memiliki rasa takut akan niat jahat,” katanya.

Sumber : https://www.beritasatu.com/ekonomi/96669/ibeka-tekankan-pentingnya-partisipasi-masyarakat-dalam-pembangunan

Recommended Posts

No comment yet, add your voice below!


Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *