Di IBEKA, kami selalu percaya bahwa masa depan pertanian Indonesia tidak ditentukan oleh teknologi mahal atau kebijakan besar semata, melainkan oleh petani muda yang berani mencoba hal baru dan bersedia belajar. Semangat inilah yang kami temukan pada Salim (29 tahun), seorang petani muda asal Desa Prambatan Lor, Kecamatan Kaliwungu, Kudus.
Di tengah tantangan pertanian modern petani harus berhadapan dengan mahalnya pupuk kimia, ketergantungan pada input eksternal, hingga degradasi lingkungan—Salim memilih jalan yang tidak selalu populer: bertani secara ramah lingkungan. Pilihan ini ia perkuat dengan mengikuti Pelatihan Pertanian Ramah Lingkungan selama lima hari yang diselenggarakan di Panaruban, Subang.
Belajar dari Praktik, Bukan Sekadar Teori
Selama pelatihan, Salim dan para peserta lainnya tidak hanya disuguhi materi di ruang kelas. Mereka terlibat langsung dalam praktik lapangan—mulai dari persiapan lahan, perawatan tanaman, hingga strategi pemasaran hasil panen. Pendekatan ini membuat ilmu yang diperoleh terasa dekat dengan realitas petani, mudah dipahami, dan dapat langsung diterapkan.
Seluruh proses pembelajaran berbasis alat sederhana dan teknologi tepat guna, tanpa ketergantungan pada teknologi mahal. Prinsipnya jelas: pertanian ramah lingkungan harus bisa dijalankan oleh siapa saja, dari desa mana saja, dengan sumber daya yang tersedia di sekitar.
Dari Ilmu Menjadi Aksi Nyata
Ilmu yang diperoleh Salim tidak berhenti di ruang pelatihan. Sepulang ke desanya, ia langsung beraksi. Salim meracik POC (Pupuk Organik Cair) dari bahan-bahan yang mudah ditemukan: urin kelinci, dicampur dengan molase, EM4, serta tambahan bahan alami seperti daun kelor dan kunyit.

Campuran tersebut difermentasikan selama 14 hari di tempat teduh menggunakan galon bekas air mineral. Proses ini murah, mudah dilakukan, dan ramah lingkungan sekaligus menjadi bukti bahwa inovasi pertanian tidak selalu membutuhkan modal besar.
Hasil yang Berbicara
POC hasil racikan Salim kemudian diaplikasikan pada tanaman gambas di lahan milik ibunya seluas 40 meter persegi. Hasilnya jauh dari sekadar eksperimen. Dalam waktu 40 hari, tanaman gambas sudah bisa dipanen hingga enam kali.
Produktivitas tetap terjaga, tanaman tumbuh sehat, dan biaya produksi bisa ditekan secara signifikan. Bagi Salim, ini bukan hanya soal hasil panen, tetapi juga tentang kemandirian petani. Petani tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pupuk kimia yang harganya kian melambung.

Menatap Pasar dan Masa Depan
Keberhasilan ini menjadi pijakan awal bagi langkah berikutnya. Saat ini, Salim tengah bersiap menanam cabai setanuntuk memenuhi kebutuhan pasar menjelang Idul Fitri. Ia melihat pertanian bukan sekadar aktivitas produksi, tetapi juga usaha yang perlu membaca momentum pasar dan peluang ekonomi.
Langkah Salim mungkin tampak kecil jika dilihat dari luas lahannya. Namun dampaknya besar—bagi keluarganya, bagi lingkungan sekitar, dan bagi masa depan pertanian desa. Ia membuktikan bahwa ketahanan pangan dan kelestarian lingkungan bisa berjalan beriringan.
Dari Desa, Perubahan Dimulai
Kisah Salim adalah potret bagaimana pertanian ramah lingkungan dapat tumbuh dari desa, dari rumah, dan dari tekad seorang petani muda. Dengan akses pada pengetahuan yang tepat, pendampingan yang relevan, serta keberanian untuk mencoba, perubahan nyata bisa diwujudkan tanpa harus menunggu proyek besar atau modal besar.
Bagi IBEKA, perjalanan Salim adalah pengingat bahwa masa depan pertanian Indonesia ada di tangan mereka yang berani memulai—pelan, konsisten, dan berpijak pada kearifan lokal.
Dari Desa Prambatan Lor, Salim menanam lebih dari sekadar gambas dan cabai. Ia menanam harapan akan pertanian yang lebih adil, mandiri, dan berkelanjutan.





