Refki Rizki Alfani merupakan alumni kegiatan PERINTIS tahun 2023 yang diselenggarakan oleh IBEKA. Saat ini, Refki fokus mengembangkan Dreamseed, sebuah ekosistem pelatihan dan pengembangan pemuda yang berorientasi pada pendidikan, kolaborasi sosial, dan aksi nyata generasi muda. Melalui Dreamseed, Refki memimpin berbagai inisiatif, termasuk pelatihan Prakarsa Muda bekerja sama dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga, yang melibatkan puluhan pemuda dari berbagai daerah untuk memperkuat kapasitas dan kontribusi mereka di masyarakat. Dengan pendekatan nilai, struktur, dan keberlanjutan, Dreamseed menjadi wadah bagi anak muda untuk bertumbuh serta membuktikan bahwa gerakan sosial dapat berjalan terpadu dan berdampak luas.
Namun, sebelum Dreamseed tumbuh seperti hari ini, Refki terlebih dahulu bertemu dengan sebuah ruang belajar yang membentuk cara pandangnya: kegiatan PERINTIS.
Ruang Belajar yang Membuka Makna
Ketertarikan Refki mengikuti PERINTIS berawal dari rasa ingin mengeksplorasi pengalaman baru. Ia pertama kali mengetahui kegiatan ini melalui internet dan terdorong untuk bertemu dengan lebih banyak orang serta memperluas perspektif hidup. Kesan pertamanya begitu kuat.
Melalui PERINTIS, Refki melihat bahwa IBEKA bukan sekadar lembaga pelatihan, melainkan ruang berbagi gagasan dan nilai. Ia menangkap satu hal penting: praktik kewirausahaan sosial bukan sekadar wacana, tetapi sesuatu yang benar-benar dijalankan. Pelatihan ini tidak berhenti pada pengembangan kapasitas individu, melainkan mengajak peserta memahami makna kehidupan sebagai bagian dari tujuan hidup dan kontribusi sosial yang lebih besar.
Belajar dari Realitas Bangsa
Salah satu sesi yang paling membekas bagi Refki adalah pemaparan dari Dandhy Laksono. Melalui kisah perjalanan jurnalistiknya berkeliling Indonesia, Refki disadarkan bahwa persoalan hidup tidak hanya berhenti pada lingkaran personal, tetapi terhubung dengan realitas bangsa yang jauh lebih luas.
Visual, cerita lapangan, dan empati yang dibangun dalam sesi tersebut membuat Refki memahami satu hal penting: di tengah keterbatasan dan ketimpangan, selalu ada harapan dan senyuman masyarakat. Dari sana, ia semakin yakin bahwa sekecil apapun kegiatan sosial yang dilakukan, tetap memiliki dampak nyata bagi kehidupan orang lain.

“Sepatu Rakyat” dan Pembunuhan Ego
Nilai paling kuat yang tertanam dalam diri Refki selama mengikuti PERINTIS adalah konsep “sepatu rakyat”, yang ia pelajari dari Bapak Iskandar dan Ibu Tri Puni. Bagi Refki, sepatu rakyat bukan sekadar istilah, melainkan simbol empati dan kesetaraan: bagaimana seorang pemuda perlu benar-benar berjalan di jalur yang sama dengan masyarakat.
Berbeda dengan pelatihan lain yang sering berlangsung di ruang nyaman seperti hotel, PERINTIS justru menghadirkan pengalaman hidup yang setara. Peserta diajak merasakan kesederhanaan, kedekatan, dan realitas keseharian masyarakat. Dari sana, Refki memahami bahwa kebermanfaatan tidak lahir semata dari kecakapan individu, melainkan dari proses menjadi manusia seutuhnya, yang mau belajar, mendengar, dan merasakan kehidupan masyarakat secara langsung.
Dari Hangout ke Gerakan yang Berkelanjutan
Sebelum mengikuti PERINTIS, Refki mengakui bahwa banyak aktivitas kepemudaan yang ia ikuti hanya berhenti sebagai ajang berkegiatan tanpa tujuan jangka panjang. PERINTIS mengubah cara pandangnya secara mendasar. Ia mulai memahami pentingnya alur, tujuan, dan keberlanjutan dalam setiap inisiatif sosial.
Pasca PERINTIS, Refki mendirikan komunitas Sandaran sebagai ruang pengembangan diri dan refleksi sosial bagi pemuda. Sejalan dengan itu, ia juga membangun Dreamseed, sebuah ekosistem pelatihan dan gerakan pemuda yang lebih luas. Kedua inisiatif ini lahir dari visi yang sama: mendorong pemuda memiliki peran nyata dalam pembangunan sosial. Dalam Dreamseed, ide ini diwujudkan melalui model learn and earn yang menguatkan kapasitas sosial dan ekonomi anak muda.

PERINTIS sebagai Bara yang Menyala
Bagi Refki, PERINTIS bukanlah titik awal, melainkan pemantik. Ia mengibaratkan pengalamannya seperti bara api yang terus disulut dan dijaga nyalanya. Nilai-nilai yang ia pelajari tidak hanya memengaruhi pilihan karir, tetapi juga gaya hidup sehari-hari; mulai dari cara pandang terhadap makanan, mengelola porsi, hingga kesadaran terhadap energi dan lingkungan.
Refki melihat IBEKA sebagai lembaga dengan ekosistem pelatihan yang khas: menggabungkan pemberdayaan masyarakat, bisnis berbasis komunitas, dan keberlanjutan. Ia berharap IBEKA dapat terus memperluas ruang lapangan bagi pemuda, agar semakin banyak yang belajar langsung dari akar rumput dan memahami realitas kehidupan secara utuh.
Ketika diminta merangkum pengalamannya mengikuti PERINTIS, Refki menyampaikan refleksi yang merangkum keseluruhan perjalanannya:
IBEKA adalah ruang aman untuk melihat realitas, membangun nilai, dan menyadari bahwa gerakan sosial bisa tumbuh dalam ekosistem yang kuat dan berkelanjutan.
Sebuah pengingat bahwa ketika bara kecil dirawat dengan nilai, empati, dan tujuan yang jelas, ia mampu menyalakan api perubahan yang dampaknya terus menyebar.





