Jangkau 244 Desa di Wilayah 4T, Patriot Energi Hasilkan Potensi Listrik hingga 7,51 Megawatt

Sebanyak 98 Patriot Energi Tahun 2021 disambut kepulangannya di Wisma Butterfly Haven, Subang, 1 November 2022. Para patriot energi menyelesaikan tugas selama 12 bulan di 13 provinsi, 33 kabupaten, dan menjangkau 244 desa.

Program Patriot Energi ini merupakan kerja sama Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral atau ESDM bekerja sama dengan Yayasan Inisiatif Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (IBEKA). Program ini ditujukan untuk mendukung peningkatan rasio elektrifikasi desa melalui penyediaan akses listrik di daerah terdepan, terluar, tertinggal, wilayah transmigrasi (4T) berbasis energi baru terbarukan (EBT).

Tenaga Ahli Program Konservasi Energi, Tri Mumpuni, menyebut Patriot Energi Tahun 2021 telah menjangkau 244 desa di berbagai wilayah, mulai dari Kalimantan, Sulawesi, NTT, Maluku,hingga Papua. Selama penugasan, 98 Patriot Energi menghasilan 106 pra studi kelayakan dengan jenis pembangkit PLTMH 15 lokasi, SHS 13 lokasi, dan 78 PLTS lokasi terpusat dengan total potensi yang dipetakan sekitar 7,15 megawatt (MW).

“Insya Allah memberi manfaat untuk 11.539 rumah,” ujar Tri dalam sambutannya, Selasa, 1 November 2022.

Tri menuturkan bahwa Patriot Energi sebagai hadirnya negara di tengah-tengah masyarakat di daerah 4T untuk pemerataan pembangunan dan peningkatan kesejahtaraan dengan EBT. Termauk untuk mewujudkan net zero emission (NZE) pada tahun 2020. “Programi ini sebetulnya diharapkan nanti bisa mewujudkan pembangunan EBT berkelanjutan,” ucapnya.

Hadir dalam acara yang sama, Menteri ESDM Arifin Tasrif,  mengatakan pihaknya akan mengupayakan agar program Patriot Energi bisa terus berlangsung. Sebab, masih ada banyak daerah yang belum terwadahi.

“Negara punya tanggung jawab mencapai seluruh wilayah untuk bisa memberikan pelayanannya, untuk kebutuhan masyarakat yang ada di pelosok-pelosok tanah air,” ujar Arifin.

Melalui pengalaman para Patriot Energi di lapangan, lanjut Arifin, maka bisa dipikirkan bagaimana cara membantu masyarakat di wilayah 4T. “Bagaimana kita memberikan masukan. Bagaimana mempercepat akses kesetaraan dan mengurangi ketimpangan,” kata dia.

Sumber : https://bisnis.tempo.co/read/1651786/jangkau-244-desa-di-wilayah-4t-patriot-energi-hasilkan-potensi-listrik-hingga-751-megawatt

Patriot Energi Dari IBEKA Ajarkan Warga Konawe Selatan Pemanfaatan Kulit Buah Pala

Warga di Kecamatan Laonti, Konawe Selatan (Konsel), Sulawesi Tenggara (Sultra) mengikuti pelatihan pengolahan kulit pala agar bernilai ekonomis. Mereka diajarkan untuk membuat sirup dari sari pati kulit pala.

Inisiatif Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (IBEKA) Jakarta yang memfasilitasi pemanfaatan sumber daya alam tersebut.

Kecamatan Laonti merupakan salah satu wilayah penghasil buah pala. Namun selama ini masyarakat membuang begitu saja kulit pala dan hanya mengambil bijinya untuk dijual.

Padahal kulit pala dapat diolah menjadi berbagai produk minuman dan cemilan seperti sirup, manisan, dodol, selai, dan lain-lain. Warga menganggap selama ini kulit pala tidak bernilai ekonomis.

“Selama ini saya tidak berpikir kalau kulit buah pala dapat diolah menjadi sirup dan ternyata sirup pala rasanya sangat enak dan segar sekali,” tutur seorang Ibu, pada Kamis (25/08).

Fasilitator IBEKA, Almunadi menuturkan awalnya dirinya datang ke Desa Peo Indah untuk menjalankan tugas program Patriot Energi dari Kementerian ESDM untuk melakukan studi kelayakan pembangunan pembangkit listrik bersumber dari energi Baru Terbarukan di desa desa Sulawesi Tenggara yang belum terkoneksi dengan jaringan listrik PLN.

Namun karena melihat di Kecamatan Laonti memiliki potensi pertanian pala maka atas inisiatifnya dia berupaya memfasilitasi pelatihan pengolahan sirup pala.

“Saya melihat di Sulawesi Tenggara khususnya di kecamatan Laonti banyak kebun pala milik masyarakat, namun masyarakat hanya menjual biji dengan bunganya saja, sedangkan kulitnya dibuang,” ujar dia.

Menurut Almunadi kulit pala bisa diolah menjadi produk makanan dan minuman yang bisa menambahkan pemasukan masyarakat.

Pelatihan pembuatan sirup pala diikuti oleh warga setempat. Para peserta pelatihan sangat antusias mengikuti setiap tahapan dalam pengolahan sirup pala. Ia mengatakan sebenarnya tidak rumit untuk membuat sirup pala.

“Pertama daging dari kulit pala dibersihkan, selanjutnya diblender untuk diambil sari pala dan terakhir sari pala dimasak kemudian disaring,” ujar dia.

Pelatihan pembuatan sirup pala ini bertujuan tidak hanya sekadar untuk konsumsi pribadi, namun juga diajarkan bagaimana membuat sirup pala untuk tujuan home industri tanpa mengabaikan standar keamanan dan kelayakan konsumsi.

Almunadi berharap pelatihan ini dapat memberikan manfaat yang nyata bagi perekonomian masyarakat Laonti dan sirup pala ini dapat menjadi oleh-oleh khas dari Sultra. Tak lupa ia meminta dukungan semua pihak dalam proses pengembangan produk milik warga setempat.

Sumber : https://kumparan.com/kendarinesia/ibeka-jakarta-ajarkan-warga-konawe-selatan-pemanfaatan-kulit-buah-pala-1ylg2Q0cLoQ/full

IBEKA Tekankan Pentingnya Partisipasi Masyarakat Dalam Pembangunan

Direktur Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (IBEKA) Tri Mumpuni menyebut hal terpenting dalam proses pembangunan adalah pendekatan kepada masyarakat. Tidak hanya komitmen para pemangku kepentingan namun juga keterlibatan masyarakat dalam pembangunan itu.

“Pulau Sumba Ikonik ini sebuah mimpi yang bisa jadi kenyataan dalam 10 tahun ke depan,” kata Tri Mumpuni di Jakarta, Rabu (13/02).

Dalam acara seminar nasional Sumba Iconic Island, Tri Mumpuni menceritakan pengalamannya ketika berada di Sumba sekitar tahun 1999. Dia melihat kaum perempuan dan anak-anak menghabiskan waktu selama tujuh jam sehari hanya untuk mengambil air. Untuk meringankan beban masyarakat, Tri Mumpuni kemudian memasang panel surya yang digunakan untuk memompa air.

“Begitu teknologi dipasang tugas mereka cepat selesai. Tapi perempuan itu tidak mau diam begitu saja. Mereka kemudian membuat katami atau sejenis tikar yang bisa bantu penghasilan keluarga. Jadi ini terlihat perempuan memegang peranan penting dalam ekonomi,” jelasnya.

Pada suatu hari, kata Tri Mumpuni ada Solar Photo Voltaic (PV) seharga US$250 ribu yang rusak karena ada batu besar tergeletak diatasnya. Usut punya usut ternyata pemasangan panel surya itu tidak melibatkan masyarakat, sehingga penduduk di sekitar pembangkit energi tenaga surya itu tidak merasakan manfaatnya.

Lebih lanjut Tri Mumpuni mengatakan Ibeka telah membangun pembangkit listrik tenaga miko hidro berkapasitas sekitar 500 kilowatt. Listrik sebesar itu mampu menerangi di lebih 60 desa. Serta IBEKA dan Hivos membangun satu unit pembangkit listrik mikro tenaga air di Mbaku Hau Desa Kemanggih, Sumba Timur berukuran 37 KWH yang mampu memberikan penerangan ke 100 rumah tangga dan dua industri rumah tangga.

Menurut Tri Mumpuni kebutuhan tiap kepala keluarga hanya sekitar 50 voltampere lantaran digunakan untuk kebutuhan penerangan di malam hari. “Sekarang jangan hanya berpikir supply tapi dilihat demand-nya berapa. Berikan apa yang dibutuhkan rakyat,” jelasnya.

Sementara itu Jubilate Pieter Pandango selaku Bupati Sumba Barat mengatakan karakter masyarakat di pulau Sumba berbeda beda berdasarkan strata sosial. Di pulau Sumba ada empat kabupaten yaitu Sumba Barat, Sumba Tengah, Sumba Timur dan Sumba Barat Daya.

Menurut Pieter, masyarakat Sumba Tengah dan Sumba Timur agak lamban dalam menerima informasi. “Memang agak setengah mati berhadapan sama mereka. Mereka memiliki rasa takut akan niat jahat,” katanya.

Sumber : https://www.beritasatu.com/ekonomi/96669/ibeka-tekankan-pentingnya-partisipasi-masyarakat-dalam-pembangunan

Sosok Tri Mumpuni, Ilmuwan Muslim Indonesia Paling Berpengaruh di Dunia

Nama Tri Mumpuni tercantum dalam daftar ilmuwan muslim paling berpengaruh di dunia di laporan The World’s 500 Most Influential Muslims 2021. Namanya bersanding dengan 21 ilmuwan muslim dari penjuru dunia yang dirilis The Royal Islamic Strategic Studies Centre.
Seperti apa sosok Tri Mumpuni?

Tri Mumpuni yang lahir di Semarang pada 6 Agustus 1964 adalah ilmuwan pembangkit listrik tenaga mikro hidroelektrik. Ilmunya sudah diterapkan di 65 desa seluruh Indonesia dan satu desa di Filipina melalui Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (IBEKA).

Perempuan yang dijuluki Wanita Listrik ini mendapat penghargaan Ashden Awards 2012. Dia juga disebut dalam pidato Presiden AS ke-44 Barack Obama di Presidential Summit on Entrepreneurship, yang merupakan pertemuan wirausaha negara muslim, pada 27 April 2010.

Dikutip dari detik finance, Tri kerap diajak suaminya untuk melihat potensi air sebagai pembangkit listrik. Saat itu suaminya sedang membangun pembangkit kecil 13 KW di desa Subang dengan 144 KK. Saat akhirnya listrik berhasil masuk, Tri mengaku merinding.

“Pas listrik menyala mereka akan berteriak Allahu Akbar. Saya sering merinding di tengah tengah penduduk di daerah terpencil bahkan kadang di tengah hutan pada waktu itu yang gelap gulita tiba tiba terang oleh listrik yang kita bangun,” kata Tri.

Tri Mumpuni menuturkan, kunci keberhasilan listrik di daerah terpencil adalah menganggap listrik sebagai modal sosial bangsa. Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) adalah alat untuk pemberdayaan masyarakat bukan mencari uang.

“Saya katakan pendekatan kita membangun listrik adalah modal sosial rakyat. Rakyat rela bekerja tanpa dibayar karena memang mereka sadar kemanfaatan yang akan mereka peroleh. Dengan cara ini, maka fasilitas yang dibangun akan berkelanjutan,” jelas Tri Mumpuni.

Pelaksanaan pembuatan fasilitas listrik ini tidak mudah jika dihadapkan dengan sistem pembiayaan di Indonesia. Sistem business as usual tidak memungkinkan adanya proses pemberdayaan masyarakat. Dengan sistem ini masyarakat menjadi objek yang harus disuapi.

Artinya, Indonesia perlu terobosan untuk mendukung Nawacita yang mengharuskan pembangunan dari pinggiran. Terobosan ini merupakan kesempatan emas bagi rakyat desa untuk hidup makmur dengan mudah. Mereka yang lebih mampu harus menjadi fasilitator agar orang desa mampu membangun dirinya.

“Desa harus punya aset dan rakyat dengan sendirinya akan punya cash basis. Saya tidak asal ngomong, karena saya sudah membuktikan hal ini sangat mungkin, betul betul sangat mungkin,” kata Tri Mumpuni.

Nah, itu dia sekilas sosok ilmuwan muslim Tri Mumpuni. Siapa yang mau jadi ilmuwan dunia kayak Tri Mumpuni?

sumber : https://www.detik.com/edu/edutainment/d-5710533/sosok-tri-mumpuni-ilmuwan-muslim-indonesia-paling-berpengaruh-di-dunia.

Mendorong Pembangunan Berbasis Masyarakat melalui Pembangkit Listrik Tenaga Air Skala Kecil

Bentuk kerjasama IBEKA dengan Jepang (ODA) adalah IBEKA ditunjuk sebagai pelaksana dari bantuan Hibah Skala Kecil. Meskipun skala bantuan hibah ini relatif kecil (kurang dari US$100.000), tetapi dana ODA ini dapat diberikan secara langsung kepada masyarakat atau melalui LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat). Sistem ini sangat efektif karena pengadaannya fleksible dan bermanfaat langsung bagi masyarakat. LSM dan masyarakat mengemban tanggung jawab untuk menggunakan dana ini dengan baik dan tepat guna berdasarkan kebutuhan masyarakat seperti air bersih, listrik, perbaikan sekolah, dan lain-lain.

Rasio elektrifikasi Indonesia relatif rendah (54%), hal ini menyebabkan banyak daerah belum mendapatkan listrik dan masyarakatnya masih banyak yang hidup dalam kegelapan. IBEKA telah lama bekerjasama dengan masyarakat setempat untuk membangun pembangkit listrik tenaga air skala kecil (mikrohidro) dan mengerakkan mereka untuk meningkatkan taraf kehidupannya.

Pada tahun 1996, IBEKA menerima bantuan hibah kecil dari Pemerintah Jepang untuk membangun pembangkit listrik tenaga air skala kecil di Simanau, Solok, Sumatera Barat. Dalam bantuan hibah ini, IBEKA bekerjasama dengan masyarakat setempat untuk merencanakan dan membangun pembangkit listrik tenaga air berskala kecil. Bantuan ini juga memberikan pelatihan bagaimana cara mengelola pembangkit listrik tersebut. Melalui proses ini masyarakat desa mengembangkan kemampuan mereka untuk mengelola dan memelihara pembangkit listrik tenaga air skala kecil secara mandiri. Di samping itu, masyarakat setempat dapat menggunakan air untuk irigasi dan hasil penjualan kelebihan listrik kepada PLN digunakan untuk membangun klinik dan meningkatkan infrastruktur lokal lain. Saat ini pembangkit listrik tersebut masih berfungsi maksimal dan menjadi sumber penghasilan yang penting bagi masyarakat setempat. Sementara bantuan ODA Japan mendukung pembangunan infrastruktur skala besar seperti pembangkit listrik, jalan dan jalur untuk meningkatkan kegiatan ekonomi, proyek skala kecil di daerah pedesaan seperti pembangkit listrik tenaga air skala kecil, pembangunan jembatan kecil di desa, penyediaan sumber air bersih, pembangunan sekolah di level komunitas dapat meningkatkan kesejahteraan komunitas lokal secara efektif. Proyek skala kecil ini akan efektif jika memberdayakan masyarakat dengan “pendekatan berbasis masyarakat”. Kami berterima kasih kepada Pemerintah Jepang untuk dukungannya bagi pembangunan pedesaan melalui “pendekatan masyarakat”.

sumber : https://www.id.emb-japan.go.jp/oda/id/topics_200807.html

Belajar Bersama di IBEKA

Dia membesarkan anak cengkeh

Orang kampung panen raya kebun cengkeh

Dia mengukur cuaca musim kemarau

Orang-orang jadi waspada makna bencana kemarau

Dia meransum gizi sapi bali

Orang-orang menggemukkan sapi bali

Dia memasang fondasi tiang lokal sekolah

Orang-orang memasang dinding dan atapnya

Dia mengukir alfabet dan mengamplas angka-angka

Anak desa jadi membaca dan menyerap matematika

Dia merobohkan kolom gaji dan karir birokrasi

Kasim Arifin, di Waimital

Jadi petani

Cuplikan puisi “Syair untuk Seorang Petani dari Waimital, Pulau Seram” karya Taufik Ismail tersebut dibacakan oleh empat orang massa HMRH sebagai pembuka pertemuan antara kami, massa HMRH, dengan Bapak Iskandar Budisaroso Kuntoadji, di aula rumahnya yang sejuk (18/4). Rumah yang berlokasi di Kampung Panaruban, Sagalaherang, Subang, Jawa Barat tersebut juga merupakan kantor dari Yayasan Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (IBEKA). Sang empunya rumah, Pak Is, merupakan penggiat pengembangan masyarakat sekaligus pemimpin IBEKA. Beliau menyambut hangat keluguan kami yang datang untuk menggali ilmu mengenai pengabdian masyarakat.

Pak Is mengawali pemaparannya dengan menunjukkan fakta bahwa masih ada lebih dari 60 juta anak-anak Indonesia belum bisa mengenyam pendidikan. Sempat beliau meminta untuk menghentikan pemaparannya dengan suara bergetar, lalu menyeka matanya yang basah. “Lihat, betapa manisnya anak-anak itu (menunjuk foto anak-anak pedesaan yang sedang tersenyum). “Mereka juga punya hak untuk mengenyam pendidikan, maka jangan rebut hak mereka dengan berdemo karena subsidi yang dicabut dari tangan kalian,” lanjutnya tegas.

Pak Is menjelaskan bahwa pengabdian dan pengembangan masyarakat oleh insan intelektual seperti mahasiswa merupakan suatu kewajiban. “Indonesia sudah terlalu banyak orang pintar, tapi tidak punya hati. Orang pintar tanpa hati hanyalah akan ‘memintari’ masyarakat. Kecenderungan orang pintar hanyalah akan mengikuti tapak industri asing besar yang menjajah sumber daya Indonesia. Kunci dari majunya Indonesia justru terletak pada pengembangan masyarakat lokal, dan hal ini membutuhkan orang-orang dengan hati yang besar,” paparnya.

Beliau juga mengkritisi kondisi mahasiswa dan perguruan tinggi yang cenderung mengejar keberterimaan mahasiswa di industri-industri asing yang menjanjikan gaji yang besar, ketimbang berusaha untuk membangun daerah dan mengembangkan masyarakat lokal. “Seorang manusia disebut kaya itu bukan karena hartanya,” ucapnya dengan tatapan tajam, “namun karena hasil karyanya yang berhasil membuat manusia lain semakin sedikit memerlukan, sehingga semakin banyak manusia yang mampu memberi kepada sesamanya.”

Konsep Pengabdian Masyarakat

Poin ketiga dari Tri Dharma Perguruan Tinggi ini merupakan hal yang selalu ditekankan di hampir setiap kaderisasi, baik kaderisasi tingkat universitas maupun kaderisasi tingkat jurusan, khususnya di ITB. Walaupun poin ini selalu ditekankan untuk dijadikan salah satu prioritas di himpunan-himpunan ITB, seringkali pada kenyataannya prioritas mahasiswa akan kegiatan pengabdian masyarakat hanya sekedar teori yang tercantum pada materi kaderisasi.

Hal ini disorot oleh Pak Is sebagai bencana kemahasiswaan, di mana seharusnya kemahasiswaan, yang tertuang dalam kegiatan pengabdian masyarakat, menjadi salah satu alat penting untuk membentuk nurani mahasiswa, sehingga mahasiswa merupakan insan akademis yang bukan hanya knowledge-based, tapi juga sensing-based, dengan empathy skill dan moral will yang lebih besar ketimbang business skill dan commercial will-nya. Kemahasiswaan juga seharusnya membentuk kader-kader yang kooperatif, sehingga menggeser konsep kompetitif yang selama ini dibangun dalam tatanan pendidikan sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi. “Pendidikan formal Indonesia, sadar-tidak sadar, sudah mengerdilkan perspektif kamu tentang dirimu sendiri,” ucap Pak Is, “kamu menjadi beranggapan kemampuan kamu terbatas, dan hal yang harus dikejar itu hanyalah IPK. Dirimu tidak sebatas itu. Manusia itu unik, dan dengan bekerja sama dengan manusia lain, manusia bisa merubah dunia.”

Pengabdian masyarakat, selain karena urgensi akan diri mahasiswa tersebut, tentunya merupakan kontribusi yang wajib dilakukan mahasiswa pada bangsa dan negaranya. Mengangkat fakta bahwa lebih dari 100 juta rakyat Indonesia belum merasakan listrik,“Kamu itu orang-orang yang sangat beruntung. Berapa kali dalam sebulan lampu rumahmu mati? Banyak orang-orang di luar sana, yang mendapatkan listrik selama 3 hari dalam sebulan saja sudah lebih dari cukup,” sahut Pak Is.

Beliau lalu menyebutkan ada tiga metodologi dalam kemitraan masyarakat, yaitu membuka potensi dan kemampuan masyarakat lokal, mendorong aspirasi dan cara pembangunan dari dan oleh masyarakat lokal, dan mengawal proses ‘pembangunan diri’ masyarakat lokal. Hal ini akan berjalan baik jika diiringi oleh prinsip-prinsip pengabdian masyarakat, yaitu dengan melihat keadaan masyarakat menggunakan kacamata masyarakat sendiri, memunculkan ide dari permasalahan lokal dan tidak memaksakan ide kita, melakukan pengembangan partisipatif bottom-up, dan melebarkan rentang pilihan masyarakat untuk memudahkan penawaran teknologi yang dibawa mahasiswa.

Teknologi yang Dikembangkan IBEKA

Kampung Panaruban, Sagalaherang, Subang, Jawa Barat, merupakan salah satu wilayah yang dibina oleh IBEKA. Dalam mengembangkan Kampung Panaruban dan meningkatkan taraf hidup masyarakat setempat, IBEKA menjadi inisiator pembangunan dan pengembangan pembangkit listrik tenaga mikrohidro. Bersama istrinya, Ibu Tri Mumpuni, pembangkit listrik tenaga mikrohidro ini berhasil menjadi sumber suplai listrik untuk perumahan masyarakat, dan sampai sekarang maintenance-nya telah diambil alih oleh masyarakat setempat secara mandiri.

Selain pembangkit listrik tenaga mikrohidro, di Kampung Panaruban, IBEKA pun menginisiasi penyediaan energi yang dapat dikelola masyarakat secara mandiri berupa biogas. Biogas dihasilkan dari kotoran sapi yang terkumpul dalam reaktor anaerob, dengan keluaran gas yang disalurkan ke rumah warga dan sludge yang akan dipakai sebagai pupuk tanaman (kompos). Setiap instalasi biogas didirikan untuk setiap 5 rumah warga, dengan kotoran yang berasal dari 6 ekor sapi.

Antusiasme Massa HMRH

Bincang Pintar bersama Bapak Iskandar ternyata meningkatkan antusiasme massa HMRH terhadap kegiatan pengabdian masyarakat, seperti yang dikatakan Khanza Jamalina (BE’13), “Bapak Iskandar sangat menginspirasi. Beliau membuka pikiran saya mengenai hal-hal lain yang tidak saya pikirkan sebelumnya, yang tentunya membuat wawasan saya menjadi lebih luas. Dan menurut saya, akan lebih seru saat kita bertandang ke rumah warga setempat secara langsung, dan melihat signifikansi dampak IBEKA pada mereka.”

Sebagai ketua acara sekaligus Kepala Departemen Badan Keprofesian dan Pengabdian Masyarakat HMRH 2015/2016, Fery Febriansyah (BE ’12), mengatakan, ”Dengan adanya acara kecil ini, saya pribadi berharap pengabdian masyarakat dapat menjadi solusi berkelanjutan bagi masyarakat termasuk yang ada di sekitar kampus.” Hal ini ditimpali oleh Kepala Divisi Pengabdian Masyarakat HMRH 2015/2016, Arifah Qurrota A’yun (BE ’12), “Ya, saya pun berharap kita semua dapat berkarya yang lebih nyata lagi. Kita semua – bukan hanya mahasiswa/i yang menempatkan dirinya sebagai penggiat bidang pengabdian masyarakat, tapi seluruh massa kampus, khususnya HMRH.” (DR)

sumber : https://hmrh.sith.itb.ac.id/belajar-bersama-di-ibeka/

PPSDM KEBTKE Bekerjasama dengan IBEKA selenggarakan Pelatihan Patriot Energi

Dalam upaya mencapai target menjalankan program percepatan pengembangan energi baru terbarukan salah satunya Program Patriot Energi dengan tujuan mendorong keterlibatan generasi muda dalam pendampingan, pengembangan, pembangunan dan pengelolaan pembangkit energi baru terbarukan secara berkelanjutan melalui pemanfaatan potensi EBT setempat.

Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Ketenagalistrikan Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (PPSDM KEBTKE) bekerja sama dengan Inisiatif Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (IBEKA) selenggarakan Pelatihan Patriot Energi secara offline, pada tanggal 20 sampai dengan 29 September 2021, bertempat di gedung PPSDM KEBTKE, Jalan Poncol Raya No.39, Ciracas, Jakarta Timur.

Kepala PSDM KEBTKE, Laode Sulaeman menyampaikan bahwa PPSDM KEBTKE diberikan amanah untuk memberikan pembekalan pendahuluan bagi calon patriot energi, pembekalan yang diberikan meliputi Pelatihan Teknis Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terpusat dan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH), yang mana kedua sumber energi ini cadangannya cukup besar dan menjadi unggulan Indonesai menyongsong Green Economy dan Net Zero Emission Indonesia Tahun 2060 atau lebih cepat.

Pelatihan teknis ini akan berlangsung selama 10 hari dengan total 100 jam pelajaran, pada kesempatan ini peserta mendapatkan materi yang terdiri dari: Regulasi Energi Baru Terbarukan (EBT) dan Regulasi Ketenagalistrikan, Pengantar Energi, Teori Dasar Listrik, Sistem dan Komponen PLTS, Pra Feasibility Study PLTS, Pengoperasian dan Pemeliharaan PLTS, Praktik PLTS, Sistem dan Komponen PLTMH, Pra Feasibility Study PLTMH, Pengoperasian dan Pemeliharaan PLTMH, Praktik PLTMH, Pembuatan Proposal Pembangunan/Pemeliharaan PLTS dan PLTMH, dan Evaluasi, ungkap Laode

Lanjut Laode, Pelatihan ini bertujuan untuk menghasilkan Patriot Energi yang mampu berperan sebagai Pendamping dan Pembina untuk memanfaatkan potensi tenaga surya dan tenaga mikro hidro bagi masyarakat, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan melalui kegiatan ekonomi produktif, dan dapat mengidentifikasi potensi energi baru terbarukan.

PPSDM KEBTKE sebagai lembaga pemerintah yang memberikan layanan kepada masyarakat saat ini telah memiliki predikat sebagai wilayah bebas korupsi atau disebut WBK

PPSDM KEBTKE SIAP menjadi bagian dan Partner Terpercaya dalam pengembangan SDM Bidang Ketenagalistrikan Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi.

Sumber : https://bpsdm.esdm.go.id/posts/2021/09/20/ppsdm-kebtke-bekerjasama-dengan-ibeka-selenggarakan-pelatihan-patriot-energi/909

Sejarah Berdirinya IBEKA

Pada tahun 1979 Iskandar Budisaroso Kuntoadji bersama rekan-rekannya sesama mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) mendirikan Yayasan Mandiri.

Tujuan dari didirikan Yayasan Mandiri adalah untuk menyebarkan dan menerapkan konsep teknologi tepat guna serta melakukan kegiatan pemberdayaan masyarakat. Pada Tahun 1992 Yayasan Mandiri bertransformasi IBEKA yang menjadi akronim dari Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan.

Kemudian pada tahun  2011 IBEKA berubah menjadi Inisiatif Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan dan tetap menjadi kepanjangan IBEKA hingga saat ini.

Saat ini, IBEKA adalah lembaga bisnis sosial yang berbasis utama teknologi. Dengan menggunakan paduan konsep adaptasi teknologi dan kesadaran sosial, IBEKA hadir di tengah masyarakat untuk ikut serta dalam usaha pemberdayaan masyarakat pedesaan dan kelompok marjinal di kerkotaan.

IBEKA tidak hanya melakukan kegiatan dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan, tetapi juga mendorong masyarakat untuk dapat mandiri dan mendapatkan kebebasan ekonomi. IBEKA percaya bahwa energi dalam hal ini listrik adalah tulang punggung pertumbuhan ekonomi.

IBEKA berupaya tetap konsisten menggunakan energi terbarukan sebagai pintu masuk dalam pemberdayaan kelompok masyarakat sekaligus menciptakan nilai tambah bagi sumber daya lokal setempat.

Dalam menjalankan kegiatan IBEKA selalu mempromosikan usaha-usaha sosial berskala lokal untuk menciptakan keragaman ekonomi. IBEKA menyediakan akses energi yang terjangkau dan andal berbasis energi terbarukan dan juga pemanfaatan energi tersebut untuk dapat lebih bermanfaat.

Program-program pemanfaatan seperti penyediaan air bersih, pengolahan hasil panen, usaha skala rumah tangga, bengkel kelompok masyarakat dan koperasi lokal. IBEKA percaya bahwa semakin beragam ekonomi, semakin besar pula peluang keberlanjutan sistem ekonomi tersebut.

Keberagaman ekonomi berbasis usaha-usaha sosial berskala lokal dapat mempercepat pengentasan kemiskinan dan juga mampu menjadi pengejawantahan tentang konsep keadilan sosial serta kelestarian lingkungan.

IBEKA menerapkan konsep “live in” sebagai metodologi utama untuk memastikan keberlanjutan pembangunan. Dalam usaha menangkap aspirasi dan kebutuhan masyarakat, personel IBEKA tinggal bersama penduduk lokal dan mempersiapkan masyarakat sebelum pelaksanaan kegiatan pembangunan melalui pemetaan sosial partisipatif, pemetaan sektoran dan juga pemetaan spasial.

Hal ini bertujuan untuk menganalisis permasalahan yang ada di masyarakat sekaligus solusinya. Penting untuk mendapatkan data yang valid karena data tersebut akan digunakan sebagai acuan untuk merumuskan rencana pembangunan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat setempat.

Pada akhirnya, masyarakat lokal dapat menentukan masa depan pembangunan secara mandiri berdasarkan inisiatif lokal IBEKA Training Center didirikan pada tahun 2015 sebagai hasil dari diskusi dengan berbagai kelompok masyarakat mengenai pentingnya menyebarkan pola pikir pembangunan ekonomi berbasis energi terbarukan.

Tempat ini telah menjadi fasilitas pelatihan bagi pelajar, pemuda dan masyarakat luas. IBEKA juga menyelenggarakan kunjungan tamu dari dalam maupun luar negeri untuk berkolaborasi termasuk akademisi dari Cornell University, Stanford University (AS), Melbourne University, MonashUniversitas (Australia), Universitas Grenoble (Prancis), Universitas Nagoya dan Tokyo Universitas (Jepang), Universitas Cambridge, Universitas Oxford (Inggris Raya), dan banyak lagientitas swasta lainnya seperti Siemens Stiftung (Jerman), Tokyo Electric Power Company, Perusahaan Listrik Chubu (Jepang).