PERINTIS yang Berlanjut: Dari Ruang Belajar ke Dreamseed

IBEKA

Saat ini Hafiz Fikrie, yang akrab disapa Fikrie/Once, tengah menempuh studi magister di National Chung Hsing University (NCHU), Taiwan, sembari aktif dalam organisasi pelajar Indonesia di kampusnya. Di luar aktivitas akademik tersebut, ia juga menjadi co-founder Dreamseed, sebuah inisiatif pengembangan diri bagi generasi muda.

Namun, sebelum berbagai peran tersebut dijalani, ada satu ruang belajar yang menjadi bagian penting dalam perjalanan Fikrie: Program PERINTIS IBEKA.

Tahun 2024, Fikrie mengikuti Program PERINTIS yang diselenggarakan oleh IBEKA. PERINTIS dirancang sebagai ruang transisi bagi pemuda untuk mengenali peran sosialnya, terutama di tengah perubahan sosial dan tantangan generasi muda saat ini. Tidak hanya berfokus pada peningkatan kapasitas individu, PERINTIS juga membuka ruang perjumpaan lintas latar belakang, tempat gagasan, keresahan, dan visi masa depan dipertemukan. Dalam ekosistem inilah peserta tidak hanya belajar tentang nilai dan praktik kebermanfaatan, tetapi juga membangun jejaring dan refleksi kolektif yang kerap menjadi titik awal lahirnya inisiatif baru.

Kesan pertama Fikrie saat mengikuti PERINTIS begitu kuat. Ia bertemu dengan para peserta dan pemateri dari latar belakang yang sangat beragam, yang sama-sama membawa semangat belajar dan kepedulian terhadap isu sosial. Proses pelatihan di IBEKA juga melatih kemandirian dan tanggung jawab personal, bahkan melalui hal-hal sederhana dalam keseharian. Diskusi yang intens dan terbuka membuat para peserta tidak hanya belajar dari materi, tetapi juga dari satu sama lain.

Salah satu sesi yang paling membekas bagi Fikrie adalah materi yang disampaikan oleh Dandhy Laksono, yang berbagi pengalamannya berkeliling Indonesia sebagai jurnalis. Kisah tentang realitas sosial yang jarang disorot media membuka perspektif baru bagi Fikrie, bahwa di balik kekayaan alam Indonesia, masih banyak masyarakat yang menghadapi tantangan kesejahteraan. Dari sana, ia mulai melihat pembangunan tidak hanya sebagai proyek fisik, tetapi sebagai proses yang sangat dekat dengan kehidupan manusia.

Pelatihan PERINTIS memberi Fikrie perspektif baru tentang isu pemuda, masyarakat, dan pembangunan. Nilai kepemimpinan, keberanian, dan kolaborasi menjadi bekal utama yang ia rasakan tertanam selama mengikuti pelatihan. Pengalaman lapangan yang mengharuskannya turun langsung dan berdialog dengan masyarakat, seperti saat berdiskusi dengan petani tembakau di Desa Sukamandi, Subang, semakin menegaskan pentingnya peran pemuda dalam menghadirkan inovasi dan kolaborasi yang berdampak nyata.

Lebih dari sekadar ruang belajar, PERINTIS menjadi ruang temu. Di sanalah Fikrie bertemu dengan Refki, sesama peserta PERINTIS, yang memiliki visi serupa di bidang edukasi dan kewirausahaan. Melalui proses diskusi dan refleksi selama pelatihan, keduanya menyadari adanya keresahan dan tujuan yang sama: bagaimana membuka akses pengembangan diri dan peluang bagi anak muda. Kesamaan nilai dan visi inilah yang kemudian berkembang menjadi fondasi awal lahirnya sebuah inisiatif bernama Dreamseed.

Gagasan yang berawal dari diskusi kecil dapat berkembang menjadi gerakan yang menjangkau luas.

Dreamseed hadir sebagai aplikasi jejaring sosial profesional dan pengembangan diri yang dirancang khusus untuk pelajar, mahasiswa, dan generasi muda (Gen Z). Melalui pendekatan berbasis komunitas dan tantangan interaktif, Dreamseed mendorong anak muda membangun citra diri, memperluas jejaring, serta menemukan peluang kerja, beasiswa, dan pengalaman belajar yang relevan. Hingga kini, Dreamseed telah digunakan oleh lebih dari puluhan ribu anak muda.

Dalam perjalanannya, Dreamseed tidak berhenti sebagai platform digital. Fikrie dan tim mengembangkan berbagai program berbasis komunitas, seperti Prakarsa Muda, Jelajah Penjuru, dan kegiatan volunteer, yang melibatkan puluhan pemuda dari berbagai daerah. Program-program ini dirancang untuk menumbuhkan keberanian, kepemimpinan, dan kepedulian sosial, nilai-nilai yang juga Fikrie temukan selama mengikuti Program PERINTIS. Ke depan, Dreamseed berencana mengembangkan inisiatif edukasi berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk menjangkau lebih banyak anak muda dengan pendekatan pembelajaran yang adaptif.

Bagi Fikrie, pengalaman di IBEKA berperan sebagai pemantik. IBEKA bukan hanya penyelenggara pelatihan, tetapi ruang aman bagi anak muda untuk bertemu, bertanya, dan menyamakan nilai sebelum melangkah lebih jauh. Ia berharap program-program seperti PERINTIS dapat terus dilanjutkan dan diperluas, terutama agar lebih banyak anak muda dari luar Pulau Jawa memiliki kesempatan belajar yang sama.

Ketika diminta merangkum pengalamannya mengikuti pelatihan IBEKA, Fikrie menyampaikannya dengan sebuah analogi sederhana namun kuat:

“Kegiatan IBEKA itu seperti mikrohidro: walaupun kecil, tapi bisa menerangi sebuah desa.”

Sebuah refleksi yang menunjukkan bahwa ruang belajar yang singkat, ketika dikelola dengan nilai dan perjumpaan yang tepat, dapat menyalakan kepemimpinan dan melahirkan gerakan yang dampaknya terus mengalir.

Bagikan:

Tags

Baca Juga

Leave a Comment