Bu Endang Susilowati, warga Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak, melangkahkan kakinya ke Bimbingan Teknis (Bimtek) Pertanian Ramah Lingkungan yang diselenggarakan oleh IBEKA dengan membawa satu bekal utama: harapan. Harapan akan lingkungan yang lebih hijau, pangan yang lebih sehat, dan kehidupan keluarga serta masyarakat yang lebih berdaya. Tidak ada ambisi besar atau rencana muluk. Yang ada hanyalah keinginan tulus untuk belajar dan memperbaiki apa yang bisa dimulai dari rumah.
Sebagai ibu rumah tangga, Bu Endang sangat akrab dengan aktivitas dapur dan halaman rumah. Ia melihat sendiri bagaimana sisa-sisa dapur setiap hari seperti kulit buah, potongan sayur, dan ampas dapur selalu berakhir di tempat sampah. Di sisi lain, lahan pekarangan di sekitar rumah masih belum termanfaatkan optimal. Tanaman ada, tetapi perawatannya bergantung pada pupuk kimia yang harganya tidak murah dan efek jangka panjangnya kerap menimbulkan kekhawatiran.
Kegelisahan kecil itulah yang mendorong Bu Endang untuk mengikuti bimtek. Baginya, pertanian ramah lingkungan bukan sekadar isu besar yang dibicarakan di forum-forum resmi, melainkan persoalan nyata yang bersentuhan langsung dengan kehidupan sehari-hari. Bagaimana mengelola sampah rumah tangga, bagaimana menanam pangan sendiri, dan bagaimana menjaga kesehatan keluarga dari apa yang dikonsumsi setiap hari.

Dalam bimtek tersebut, Bu Endang mendapatkan berbagai materi yang membuka sudut pandangnya. Ia belajar tentang prinsip-prinsip pertanian organik, pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem tanah, serta bahaya penggunaan bahan kimia berlebihan dalam jangka panjang. Lebih dari itu, ia juga diperkenalkan pada praktik-praktik sederhana seperti pembuatan ecoenzym dari limbah organik rumah tangga, teknik pengomposan, hingga perbanyakan tanaman yang bisa dilakukan tanpa alat mahal.
Cara penyampaian materi yang praktis dan membumi membuat Bu Endang merasa bahwa ilmu ini benar-benar bisa dijalankan. Tidak ada jarak antara teori dan praktik. Semua terasa dekat dengan keseharian, menggunakan bahan yang mudah ditemukan di sekitar rumah, serta tidak menuntut modal besar. Bagi Bu Endang, inilah bentuk pembelajaran yang selama ini ia cari yaitu ilmu yang tidak hanya dipahami, tetapi bisa langsung dipraktikkan.
Namun, kisah Bu Endang tidak berhenti pada apa yang ia pelajari di ruang bimtek. Justru, bagian terpenting dimulai setelah ia kembali ke lingkungannya.
Sepulang dari kegiatan, Bu Endang merasa bahwa ilmu yang ia dapatkan terlalu berharga jika hanya disimpan sendiri. Ia kemudian mengajak kelompok ibu-ibu binaan di sekitar tempat tinggalnya untuk mulai bergerak bersama. Langkah pertama yang mereka lakukan sangat sederhana: mengolah sampah dapur menjadi kompos.
Sisa sayur, kulit buah, dan limbah organik yang sebelumnya dianggap tidak berguna kini dikumpulkan dan diolah bersama. Prosesnya memang tidak selalu mulus. Di awal, ada bau yang menyengat, ada kompos yang gagal, dan ada kebingungan dalam menentukan takaran bahan. Namun, semua itu justru menjadi bagian dari proses belajar bersama.

Dari aktivitas mengolah sampah tersebut, tumbuh sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar pupuk organik. Ia menciptakan ruang kebersamaan baru bagi para ibu. Mereka berkumpul, saling bertukar pengalaman, berbagi cerita tentang rumah tangga, anak, dan kehidupan sehari-hari. Di sela-sela mengaduk kompos, tumbuh rasa saling percaya dan saling menguatkan.
Bagi Bu Endang, pertanian ramah lingkungan perlahan berubah menjadi gerakan sosial yang hidup. Ia melihat bagaimana para ibu yang sebelumnya merasa tidak memiliki peran besar dalam isu lingkungan, kini justru menjadi aktor utama perubahan. Dari dapur rumah masing-masing, mereka ikut menjaga bumi dengan caranya sendiri.
Manfaat dari praktik ini pun mulai terasa. Penggunaan kompos dan ecoenzym buatan sendiri membantu menyuburkan tanaman di pekarangan rumah. Tanaman tumbuh lebih sehat, biaya pengeluaran untuk pupuk berkurang, dan lingkungan sekitar menjadi lebih hijau. Yang terpenting, para ibu merasakan kepuasan batin karena mampu menghasilkan sesuatu dari tangan mereka sendiri.
Bagi Bu Endang, kesederhanaan alat dan bahan menjadi kunci utama keberlanjutan. Semua bisa dilakukan dengan apa yang ada: ember bekas, sisa dapur, dan waktu luang di sela-sela aktivitas rumah tangga. Tidak ada ketergantungan pada produk mahal atau teknologi rumit. Ilmu dari bimtek benar-benar membumi dan relevan dengan kondisi masyarakat.
Kini, Bu Endang menyimpan cita-cita yang sederhana namun bermakna. Ia ingin menghijaukan lingkungan sekitar rumahnya, memaksimalkan pekarangan sebagai sumber pangan keluarga, dan terus mengajak lebih banyak ibu untuk terlibat. Baginya, perubahan besar tidak selalu harus dimulai dari proyek besar. Perubahan bisa tumbuh dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.
Lebih dari itu, Bu Endang ingin membuktikan bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan pangan dan kelestarian lingkungan. Dari dapur rumah, mereka mengatur apa yang dikonsumsi keluarga. Dari halaman, mereka menanam kehidupan. Dari kebersamaan, mereka membangun ketahanan sosial.
Kisah Bu Endang adalah pengingat bahwa pertanian ramah lingkungan bukan hanya tentang tanah dan tanaman. Ia juga tentang manusia, terutama perempuan, yang dengan kesabaran dan ketekunan menanam harapan setiap hari. Tentang gotong royong yang lahir dari aktivitas sederhana. Tentang keyakinan bahwa perubahan tidak harus cepat, tetapi harus berkelanjutan.
Di Mranggen, Demak, dari dapur-dapur rumah para ibu, harapan itu kini tumbuh perlahan namun pasti. Hijau, hidup, dan penuh makna.





