Di pesisir Distrik Yerui, Kepulauan Yapen, Papua, harapan tumbuh bersama akar-akar mangrove yang mulai ditanam oleh masyarakat Kampung Ausem, Hakamopi, dan Paypiai. Di tengah lumpur pesisir dan pasang surut air laut, warga bergotong royong membawa bibit mangrove menuju lokasi penanaman. Bagi mereka, kegiatan ini bukan sekadar menanam pohon, melainkan menanam harapan untuk masa depan kampung, lingkungan, dan generasi yang akan datang.
Bagi masyarakat pesisir, mangrove memiliki arti yang sangat penting. Selain melindungi garis pantai dari abrasi dan gelombang laut, mangrove juga menjadi habitat bagi berbagai biota yang menopang kehidupan masyarakat. Keberadaannya turut menjaga keseimbangan ekosistem pesisir yang selama ini menjadi sumber penghidupan warga.
Kesadaran akan pentingnya menjaga ekosistem pesisir mendorong BumKam (Badan Usaha Milik Kampung) Distrik Yerui bersama masyarakat untuk melakukan rehabilitasi mangrove sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan lingkungan sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya alam kampung. Kegiatan ini mendapat dukungan dari PT Triputra Agro Persada (TAPG) sebagai bentuk kolaborasi dalam mendorong pelestarian lingkungan berbasis masyarakat.
Berawal dari Musyawarah Kampung
Proses rehabilitasi mangrove dimulai dari musyawarah dan diskusi bersama masyarakat. Warga memetakan kondisi pesisir, mengidentifikasi area yang membutuhkan pemulihan, serta merencanakan langkah-langkah yang akan dilakukan secara bersama-sama. Pendekatan ini menjadi penting karena keberhasilan pengelolaan sumber daya alam tidak hanya ditentukan oleh kegiatan fisik di lapangan, tetapi juga oleh keterlibatan aktif masyarakat dalam setiap proses pengambilan keputusan.
Melalui musyawarah kampung, masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga menjadi pelaku utama yang menentukan arah dan keberlanjutan program. Proses ini sekaligus memperkuat kapasitas komunitas dalam mengelola sumber daya alam yang mereka miliki.

Gotong Royong Menjaga Pesisir
Setelah lokasi ditetapkan, warga bersama-sama mengumpulkan bibit mangrove, menyiapkan area tanam, hingga melakukan penanaman di kawasan pesisir. Kegiatan dilakukan secara gotong royong dengan melibatkan berbagai kelompok masyarakat, mulai dari pemuda, perempuan, tokoh adat, hingga anak-anak.
Keterlibatan lintas generasi ini menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran lingkungan sejak dini. Anak-anak tidak hanya menyaksikan proses penanaman, tetapi juga belajar bahwa menjaga alam merupakan tanggung jawab bersama yang harus diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Pada Mei 2026, sebanyak 2.068 bibit mangrove berhasil ditanam di kawasan Pantai Ausem, Hakamopi, dan Paypiai. Penanaman dilakukan dengan mempertimbangkan kesesuaian jenis mangrove terhadap kondisi ekologi setempat agar dapat tumbuh secara optimal dan memberikan manfaat jangka panjang bagi ekosistem pesisir. Empat spesies yang ditanam meliputi Rhizophora apiculata (Bakau Merah), Bruguiera gymnorhiza (Tancang), Rhizophora mucronata (Bakau Putih), dan Ceriops australis (Nirih Australia).
Menjaga Alam, Menjaga Kehidupan
Bagi masyarakat Distrik Yerui, manfaat mangrove tidak hanya dirasakan dalam bentuk perlindungan pesisir. Mangrove juga berkontribusi terhadap keberlanjutan sumber daya perikanan yang menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat. Kawasan mangrove yang sehat menyediakan habitat bagi berbagai jenis ikan, kepiting, dan biota lainnya yang memiliki nilai penting bagi kehidupan masyarakat pesisir.
Selain itu, mangrove juga dikenal sebagai salah satu ekosistem yang mampu menyerap dan menyimpan karbon dalam jumlah besar. Dengan demikian, upaya rehabilitasi yang dilakukan masyarakat tidak hanya memberikan manfaat bagi lingkungan setempat, tetapi juga menjadi bagian dari kontribusi terhadap upaya mitigasi perubahan iklim.
Berdasarkan perhitungan karbon yang dilakukan pada kegiatan ini, penanaman 2.068 bibit mangrove berpotensi menghasilkan sekitar 1.447 pohon hidup dengan luas efektif rehabilitasi mencapai 1,3 hektare. Kawasan mangrove yang direhabilitasi diperkirakan mampu menyerap sekitar 27,1 ton karbon dioksida ekuivalen (tCO₂e) setiap tahun atau mencapai lebih dari 541 tCO₂e dalam periode 20 tahun. Angka tersebut menunjukkan bahwa langkah-langkah kecil yang dilakukan masyarakat di pesisir Papua turut memberikan dampak positif yang lebih luas bagi lingkungan global.
Melalui kegiatan ini, masyarakat semakin memahami bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar kewajiban, melainkan investasi jangka panjang untuk keberlanjutan kehidupan mereka sendiri.

Kolaborasi untuk Masa Depan yang Berkelanjutan
Keberhasilan rehabilitasi mangrove di Distrik Yerui menunjukkan bahwa perubahan dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana yang dilakukan bersama. Ketika masyarakat menjadi pelaku utama dan didukung oleh kelembagaan lokal yang kuat serta kemitraan yang saling menguatkan, upaya pelestarian lingkungan dapat memberikan dampak yang lebih luas dan berkelanjutan.
Kolaborasi antara masyarakat, BumKam Distrik Yerui, pemerintah kampung, PT Triputra Agro Persada, dan berbagai pihak lainnya menjadi fondasi penting dalam membangun ketahanan pesisir sekaligus memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan.
Pada akhirnya, setiap bibit mangrove yang ditanam hari ini bukan hanya akan tumbuh menjadi pohon yang melindungi pesisir. Ia juga menjadi simbol gotong royong, kepedulian terhadap lingkungan, dan harapan akan masa depan yang lebih baik. Dari pesisir Yerui, masyarakat menunjukkan bahwa langkah kecil yang dilakukan bersama dapat menghadirkan perubahan besar bagi Papua.
Karena dari satu bibit mangrove, tumbuh sejuta harapan.





